Prof Nurdin ‘Mencak Mencak’, Sudirman ‘Adem Ayem’?.

Makassar, MitraMedia (16/7)-Gubernur terpilih Provinsi Sulawesi Selatan periode 2019 -2023, Nurdin Abdullah mantan Bupati Bantaeng dua periode ini. Kini kembali mendapat batu sandungan dalam kepemimpinannya. Bukan saja dari unsur eksekutif sendiri, juga datang dari anggota legislatif periode terakhir.

Prof Nurdin, bukan saja diharapkan mendapat angin segar, buat kepemimpinannya yang baru, tetapi diharapkan pula dapat membangun Sulsel, lebih transfaran dan lebih maju, sesuai dengan misi visi ketika mencalonkan diri sebagai gubernur Sulsel.

Prof Andalan Marah.!

Sejak kepemimpinannya –awal kedatangan Sang Prof Nurdin Abdullah, yang dikenal bertangan dingin ini, tiba tiba saja menghentakkan kakinya birokrasi Sulsel. Di awal kepemimpinannya, mengganti Kepala Dinas Pendapatan Daerah Sulsel, Drs, Tautoto R, yang juga menjabat pelaksana tugas sekretaris daerah ketika itu. Juga Kepala Badan Pemerintahan Desa Drs H. Mustari Soba, MS.i, sebelumnya mencopot Dr, H.Jumras selaku kepala Biro pembangunan, yang juga mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Konstruksi Sulsel. Termasuk paling akhir, palang pintu Badan Pengawas Inspektorat Pemerintahan Sulsel Natsir Lutfi.

Tak pelak lagi, beberapa pejabat setingkat eselon II, membuat gregetan dengan tingkah laku panas sang Prof Nurdin, sejak awal kedatangannya. Sebelumnya pula, telah membentuk diam diam– Badan Percepatan Pembangunan sebelum pelantikannya sebagai gubernur, dengan dalih percepatan ekonomi, menurut beberapa sumber yang dapat dipercaya.

Menurut sumber itu lagi, yang lebih lucu lagi, pelantikan seratusan pejabat yang dilakukan oleh wakil gubernur Sulsel, Sudirman Sulaiman tanpa menggunakan atas nama gubernur pada hal itukan menyangkut deregulasi, yang akan dipertanggungjawabkan atas nama negara, malahan wakil gubernur diawal kepemimpinannya terdengar khabar ingin menyatukan tiga dinas PU, Bina Marga, Perumahan dan Pemukiman, serta Sumber Daya Air, walaupun semua ini sudah dianulir.

Birokrat Melawan, Hak Angket Melayang

Wartawan media ini mencoba mempertanyakan, apa gerangan hal ihwal pergantian dan pencopotan lebih mendalam kepada pejabat yang bersangkutan, semuanya diam dan membisu, hanya Mustari Soba berani menjawab, mengaku “dia tosseng sebagai gubernur, orangnya tawwa. Biasalah dalam kepemimpinan birokrasi politik, tapi saya tetap komitmen, melaksanakan tugas sebagai abdi negara yang tetap melaksanakan hak dan kewajiban sampai pensiun,”oke dinda.

Setelah beredar issu dua kepemimpinan, dan kegaduhan kepemimpinan hal ikhwal birokrasi, maka pihak legislatif pantas saja menggunakan Hak Angket yang digunakannya, tentu atas persetujuan unsur anggota fraksi, yang sampai berita ini diturunkan pihak legislatif, masih mempertanyakan hal ihwal masalah kepemimpinannya, termasuk dugaan suap yang diterima Nurdin Abdullah, dan masih berlangsung, diperkirakan selesai akhir bulan ini, apa yang menjadi kesimpulan dan keputusan pihak Legislatif.

Kronologis kejadian di bulan Juni dan awal minggu pertama Juli, Nurdin Abdullah sempat ‘mengancam mencopot’ beberapa pejabat birokrat eselon dua dan tiga sebagai pelaksana tugas eselon dua, diantaranya Muh Jabir pelaksana tugas Sekretaris dewan perwakilan rakyat, Andi Bakti kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman, dan Andi Darmawan Bintang, Kadis Sumber Daya Air,–termasuk pengancaman pencopotan pejabat pelaksana walikota Makassar Iqbal S, yang diduga tidak becus dalam melaksanakan tugas. Iqbal yang dikenal pula aktifis Muhammadiyah dan mantan kepala Biro Humas Pemprov Sulsel.

Bukan sampai disini saja, Gubernur Sulsel sempat mensomasi dan mengancam mempolisikan Dr Jumras, bila tak betul apa yang diungkapkan tentang penerimaan dugaan dana Puluhan Milyar dari pengusaha, sementara itu wakil gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, hanya adem adem saja.

Dr. Jumras diduga sempat melawan dengan menggugat gubernur Sulsel, termasuk Natsir Lutfi mantan Kepala Badan Inspketoratm menganggap bila pergantiannya sebagai kepala inspektorat dianggap merugikan negara.

Dihadapan sidang Hak angket nantinya, akan dikonfirmasi ulang, apa benar Sang Profesor Andalan, adanya dugaan menerima dana puluhan milyar dari dua pengusaha tersebut, red, –walau sebelumnya telah membantah lewat Via Hp, melalui hp ajudan gubernur Sulsel itu.

Sementara itu Abd Hayat, selaku sekretaris daerah prov sulsel yang juga di nilai beberapa pihak, tidak becus dalam menyelesaikan persoalan antara pihak pejabat eselon II dengan gubernur Sulsel, yang akhirnya masalah ini tiba di rumah rakyat, dan dikhabarkan masih berada di Jakarta, rabu ini baru balik. Mantan gubernur Sulsel dua periode,Dr.H. Syahrul Yasin Limpo SH, MSi, MH., dalam akun media sosial, sempat bercuap, “hati hatiki na dengan hak angket.”,sambil tersenyum dalam sebuah fotonya.(tim/*)