Dr. Nurdin Manurung*; “Fenomena Adzan 24 Jam di Dunia Tinjauan Ilmiah”

Kumandang adzan dikenal sebagai panggilan salat umat Islam yang dilakukan lima kali sehari. Menariknya, jika diamati secara global, suara adzan seolah tidak pernah berhenti selama 24 jam karena berlangsung bergantian di berbagai negara. Kementerian Agama RI (2024), Direktorat Bimas Islam tentang Waktu Salat.


Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui ilmu astronomi dan geografi. Bumi melakukan rotasi pada porosnya selama sekitar 24 jam atau tepatnya 23 jam 56 menit 4 detik. Rotasi ini membuat setiap wilayah mengalami pergantian siang dan malam secara berbeda-beda. Hakekatnya Karena bumi berbentuk bulat, sinar matahari tidak dapat menerangi seluruh permukaan bumi secara bersamaan. Ketika wilayah Indonesia bagian timur terkena cahaya matahari dan mengalami pagi hari, sebagian wilayah lain seperti Timur Tengah atau Amerika masih berada dalam kondisi malam.

Setelah beberapa jam, bumi terus berputar sehingga wilayah yang sebelumnya gelap akan bergantian terkena sinar matahari. Inilah yang menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam di seluruh dunia.

Rotasi bumi juga menyebabkan perbedaan waktu antarwilayah. Bumi memiliki keliling 360 derajat dan berputar penuh selama 24 jam. Artinya, setiap 15 derajat garis bujur menghasilkan selisih waktu sekitar satu jam. Oleh sebab itu, negara-negara di bagian timur memiliki waktu yang lebih cepat dibanding negara di bagian barat.

Sebagai contoh, Indonesia lebih cepat sekitar 7 jam dibanding Arab Saudi dan sekitar 12–14 jam dibanding sebagian wilayah Amerika Serikat. Dalam Islam, waktu salat ditentukan berdasarkan posisi matahari. Salat Subuh dimulai saat fajar muncul, Zuhur ketika matahari mulai condong ke barat, Asar saat bayangan benda memanjang, Maghrib ketika matahari terbenam, dan Isya ketika malam semakin gelap.

Karena posisi matahari berbeda di setiap wilayah akibat rotasi bumi, maka waktu adzan di setiap negara juga berlangsung berbeda-beda. Sebagai gambaran sederhana, ketika masyarakat di Papua mengumandangkan adzan Subuh sekitar pukul 04.30 WIT, masyarakat di Jakarta masih berada sekitar pukul 02.30 WIB. Sementara itu, di Mekkah waktu masih sekitar pukul 22.30 malam sebelumnya. Setelah beberapa jam, wilayah Jakarta mulai memasuki Subuh, lalu disusul Timur Tengah, Afrika, Eropa, hingga Amerika. Pergantian inilah yang membuat suara adzan terus terdengar secara bergantian selama 24 jam tanpa berhenti di bumi. NASA Earth Observatory (2023), Earth Rotation.
Dalam pembagian zona waktu internasional, bumi dibagi menjadi 24 zona waktu karena bumi berputar 360 derajat dalam 24 jam.

Perhitungannya adalah 360° dibagi 24 jam sehingga menghasilkan 15° bujur untuk setiap selisih 1 jam waktu. National Geographic Education (2022), Time Zones and Earth Rotation.

Karena waktu salat ditentukan berdasarkan posisi matahari, maka jadwal adzan di setiap wilayah juga berbeda. Sebagai contoh, jika adzan Subuh di Jayapura, Indonesia (WIT) berkumandang pukul 04.30, maka Jakarta yang memiliki selisih waktu 2 jam baru memasuki waktu Subuh sekitar pukul 04.30 WIB atau dua jam setelah Jayapura. Kementerian Agama RI (2024), Jadwal Salat Indonesia.

Perbedaan waktu semakin terlihat pada skala internasional. Ketika Indonesia bagian timur memasuki waktu Subuh, negara seperti Arab Saudi masih berada sekitar 6 jam lebih lambat.

Jika di Jayapura pukul 04.30 WIT, maka di Mekkah waktu masih sekitar pukul 22.30 malam sebelumnya. Time and Date (2023), World Clock and Time Zone Data.

Setelah wilayah Asia selesai mengumandangkan adzan, pergantian waktu salat bergerak menuju Timur Tengah, Afrika, Eropa, hingga Amerika. Siklus ini terus berlangsung mengikuti rotasi bumi dari timur ke barat tanpa henti selama 24 jam penuh. Encyclopaedia Britannica (2023), Islamic Prayer Times.

Menurut data Pew Research Center tahun 2023, jumlah umat Islam di dunia mencapai lebih dari 1,9 miliar jiwa yang tersebar hampir di seluruh negara. Persebaran populasi Muslim yang luas menyebabkan selalu ada komunitas Muslim yang sedang melaksanakan salat dan mengumandangkan adzan setiap waktu. Pew Research Center (2023), Global Muslim Population Report.
Ahli astronomi Muslim Mohammad Ilyas menjelaskan bahwa kesinambungan adzan merupakan dampak alami dari rotasi bumi, zona waktu internasional, dan persebaran geografis umat Islam. Selama bumi terus berputar dan waktu salat tetap mengikuti posisi matahari, maka adzan akan terus terdengar bergantian di berbagai penjuru dunia. Mohammad Ilyas (1984), A Modern Guide to Astronomical Calculations of Islamic Calendar, Times & Qibla.(Nurman)

Taborong Permai, 13 Mei 2026