*Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd., C.PIM; “Dari Balik Kulkas, Aku Belajar Berpuasa”

Ramadhan pertama yang benar-benar kuingat datang saat aku duduk di kelas lima sekolah dasar. Usia ketika iman masih belajar mengeja niat, terbata-bata seperti anak kecil membaca huruf hijaiyah pertama kali, sementara perut justru lebih fasih menyuarakan keinginannya.

Setiap pagi aku berniat dengan penuh semangat, tetapi menjelang siang, niat itu sering kehilangan bentuk. Puasa belum sepenuhnya kupahami sebagai ibadah yang mengikat jiwa; ia lebih menyerupai janji panjang yang mudah terurai oleh panas matahari, bunyi sendok di dapur, dan aroma nasi yang mengambang di udara.

Di usia itu, puasa terasa seperti lomba panjang melawan lapar yang tidak selalu bisa kumenangkan. Aku berlari bersama waktu, menghitung jam, menimbang kuat dan lemah dengan ukuran yang masih kekanak-kanakan.

Ketika lapar datang lebih cepat dari azan, aku belajar bahwa kalah bukan selalu berarti berhenti, dan menang bukan selalu soal bertahan hingga senja.

Dari kegagalan-kegagalan kecil itulah aku mulai mengenal makna ibadah—bahwa puasa bukan hanya tentang perut yang kosong, tetapi tentang hati yang sedang dilatih untuk jujur pada batas kemampuannya sendiri.

Aku masih belajar berpuasa, belajar menahan diri dengan cara yang paling sederhana dan paling jujur. Kadang aku hanya mampu bertahan hingga tengah hari, ketika matahari berdiri tepat di atas kepala dan tubuh kecilku mulai goyah. Kadang pula aku berhasil menyempurnakannya sampai senja, meski dengan sisa tenaga yang nyaris habis.

Puasa bagiku bukan soal kuat atau lemah, melainkan soal mencoba kembali setiap hari, meski tahu hasilnya sering tak menentu.

Keberhasilanku tidak kuukur dengan pahala yang belum kumengerti maknanya, melainkan dengan jam dinding di ruang tamu. Jam itu menjadi saksi diam perjuanganku.

Jarum pendeknya terasa bergerak lambat, seolah sengaja menahan langkah untuk menguji kesabaranku yang tipis. Setiap detiknya adalah ujian kecil, setiap menitnya adalah doa tanpa kata, hingga aku sadar bahwa waktu bukan hanya berjalan di dinding, tetapi juga mengajari hatiku arti menunggu.

Sebenarnya, hari itu bukan hari pertama aku goyah. Ada hari yang kulalui dengan niat setengah utuh, Setiap azan zuhur yang terlewati terasa seperti peringatan yang kian berat, dan setiap jam yang bergeser mendekatkanku pada satu pertanyaan yang sama: sanggupkah aku bertahan hingga magrib hari ini? Di usia itu, goyah bukanlah aib, melainkan bagian dari perjalanan iman yang masih belajar berdiri.
Di ujung hari, ketika lapar mencapai puncaknya dan iman sedang letih-letihnya, aku sering kalah—bukan karena tak ingin taat, melainkan karena tubuh kecilku belum sanggup menunggu kemenangan sampai azan tiba.

Aku pernah diam-diam mencicipi kolak sebelum waktunya. Pernah meneguk air dengan alasan “hanya membasahi tenggorokan”.Pernah berdiri terlalu dekat dengan meja takjil hingga satu gorengan berpindah ke tanganku tanpa terasa.

Semua kulakukan sembunyi-sembunyi. Bukan karena aku tidak tahu itu salah, tetapi karena aku belum sanggup menahan lapar yang datang seperti ombak terakhir sebelum pantai. Setiap kali itu terjadi, aku selalu berjanji dalam hati: besok aku akan lebih kuat. Tapi janji itu sering patah di ujung hari.

Hari yang paling kuingat adalah hari ketika panas terasa lebih dekat dari biasanya. Matahari seperti sengaja turun lebih rendah, menempel di kepala. Tenggorokanku kering, lidahku terasa kasar. Suara air dari dapur terdengar seperti zikir yang menggoda.
Aku bertahan sampai siang. Setidaknya, aku mencoba. Namun tubuh kecilku menyerah lebih dulu. Aku mendekati ibu yang sedang menyiapkan hidangan berbuka. Wajahnya tenang, seperti orang yang tahu bahwa iman anak-anak tidak bisa dipaksa tumbuh dengan teriakan.
“Bu,” kataku lirih, “hari ini aku tidak sanggup melanjutkan puasa.”
Ibu menatapku lama. Tatapannya bukan menimbang dosa, melainkan menakar kemampuan. Ia mengusap kepalaku, lalu berkata pelan, seolah takut malaikat pencatat mendengar terlalu jelas.
“Kalau memang tidak kuat, makan dan minum sedikit saja. Setelah itu lanjutkan lagi puasanya.” Kalimat itu seperti rukhsah kecil, keringanan yang Tuhan titipkan lewat seorang ibu. Ada izin, tetapi bukan pembebasan. Ada kasih, tetapi juga batas.
Tapi ayah begitu berbeda. Ayah adalah penjaga niat.

Dalam urusan puasa, ia teguh seperti tiang masjid: lurus, diam, dan tidak mudah digeser. Baginya, niat adalah janji kepada Tuhan. Sekali diucapkan, harus ditepati. Tidak ada puasa setengah-setengah.
Aku tahu itu.

Dan justru karena itu, aku takut.
Ketika ibu menyendokkan sedikit nasi dan menuang air ke dalam gelas, aku merasa seperti membawa rahasia besar. Aku tidak duduk di meja makan. Meja itu terlalu terang, terlalu jujur. Aku mencari tempat paling sunyi, tempat yang kupikir aman dari mata ayah.
Akhirnya, aku memilih bersembunyi di balik kulkas.

Kulkas berdiri tinggi dan dingin, seperti gerbang yang memisahkan dua dunia: dunia menahan dan dunia menyerah. Di sanalah aku menyelinap, di antara dengung mesin dan bayangan tembok. Dingin punggung kulkas menempel di lenganku, seolah mengingatkan bahwa nafsu selalu punya tempat bersembunyi.
Aku makan perlahan. Setiap suapan terasa seperti pengakuan yang tak terucap.

Setiap teguk air seperti doa yang setengah jadi. Aku teringat takjil-takjil yang pernah kucuri waktunya, dan rasa bersalah itu kembali duduk di dadaku. Dalam sembunyi itu, aku lupa satu hal: bahwa tidak ada sembunyi bagi Tuhan.

Dan ayah, entah sejak kapan sudah ada di sini. Bukan berdiri, bukan menegur. Hanya menjadi bayang yang tak kami sadari, seperti malaikat yang menunggu tanpa mencatat. Tak ada suara langkah. Tak ada cahaya yang menyala. Dapur tetap seperti biasa: kulkas berdengung pelan, ibu sibuk dengan piring, dan aku dengan nasiku—menang kecil yang kupikir aman dari langit.

Beberapa hari kemudian, ayah memanggilku. Tak ada nada marah. Tak ada khutbah. Ia hanya mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah foto, lalu mendorongnya perlahan ke arahku, seperti seseorang yang sedang menyerahkan cermin.

Di layar itu, aku membeku. Aku duduk di lantai dapur, nasi di tangan, kepala sedikit menunduk—seperti tertangkap sedang berdoa, padahal sedang bersembunyi dari puasa. Cahaya kamera tak menyentuh wajahku, tetapi menetap di mataku. Tajam. Sunyi. Seolah foto itu tahu: ini bukan sekadar lapar, melainkan niat yang tergelincir.

Dadaku sesak. Bukan karena aku terlihat oleh ayah. Melainkan karena aku sadar: beginilah rupa dosaku ketika tak lagi bisa bersembunyi—kecil, diam, dan sangat manusiawi. Nasi di foto itu tampak lebih berat dari yang kuingat. Seperti beban yang tak seharusnya kupikul di siang Ramadhan.

Dan di sana aku paham, puasa bukan hanya tentang perut yang kosong, tetapi tentang malu-malu kepada Tuhan yang melihat tanpa kamera, tanpa kilat cahaya, tanpa perlu bukti.

Aku selalu mengira hanya kulkas yang menyimpan rahasia. Ternyata ayah menyimpannya lebih lama dalam diam, dalam kasih, dalam satu gambar yang tak pernah ia gunakan untuk memarahiku, melainkan untuk mengembalikanku pada kesadaran: bahwa sebelum ayah melihatku, Tuhan telah lebih dulu menyaksikan dan sebelum aku takut pada ayah, seharusnya aku lebih dulu menjaga hatiku di hadapan-Nya.

Hari itu aku kembali berpuasa. Bukan karena kenyang, tetapi karena sadar. Aku menunggu magrib dengan perut kembali kosong, tetapi hati penuh oleh perasaan yang belum pernah kurasakan: merasa dilihat, tetapi tidak dihakimi.

Bertahun-tahun kemudian, aku baru memahami makna semua itu. Takjil adalah simbol godaan manis, dekat, dan sering datang di saat iman paling lelah. Kulkas adalah tempat nafsu bersembunyi. Foto adalah saksi—bahwa setiap usaha, bahkan yang goyah, pernah tercatat. Dan cahaya itu bukan sekadar flash kamera ayah, melainkan pengingat bahwa Tuhan Maha Melihat.

Ayah memotretku bukan untuk mempermalukanku. Ia menyimpannya sebagai pelajaran: bahwa iman tidak lahir dari takut semata, tetapi dari kesadaran. Bahwa puasa bukan tentang tidak pernah tergoda, melainkan tentang kembali menahan diri setelah jatuh.

Di balik kulkas itu, aku belajar bahwa Tuhan tidak menuntut kesempurnaan dari anak-anak. Ia hanya meminta kejujuran pada lapar, pada godaan, dan pada usaha kecil untuk bangkit.

Dan sejak hari itu, setiap kali takjil terhidang dan cahaya sore merambat ke dapur, aku selalu ingat: bahwa puasa adalah perjalanan, dan aku pernah memulainya—dari balik kulkas. Dari tempat paling dingin untuk menyembunyikan niat yang hangat oleh godaan.

Dari ruang sempit tempat aku belajar, bahwa iman bisa goyah oleh sesuap nasi, namun juga bisa tumbuh dari rasa malu yang jujur.

Kini, setiap adzan magrib bukan hanya tanda waktu berbuka, melainkan penanda jarak yang telah kutempuh: dari lapar yang disembunyikan menuju kesadaran yang kupelihara. Dan di dapur yang sama, aku belajar bahwa Tuhan tak pernah pergi tapi kitalah yang kadang memilih bersembunyi.

*Guru MAN 2 Kota Makassar.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses