*Biografi Perjalanan Hidup Dr. H. Nurdin, S.Pd., M.M., M.Si.

- Dari Tanah Sederhana, Tumbuh Harapan
Di sebuah sudut sunyi di Kampung Bungungcarammeng, Desa Samataring, Kabupaten Jeneponto, pada 1 Mei 1975, lahirlah seorang anak laki-laki yang kelak menapaki jalan panjang penuh makna. Ia adalah Dr. H. Nurdin, S.Pd., M.M., M.Si., anak kelima dari pasangan H. Dina bin Lede dan Hj. Nia binti Donggo. Tidak ada kemewahan yang menyambut kelahirannya, hanya doa-doa sederhana yang dipanjatkan oleh orang tua yang percaya bahwa setiap anak memiliki takdir besar jika ia mau berjuang.
Orang tuanya bukan hanya membesarkannya, tetapi juga menanamkan nilai kehidupan yang kelak menjadi kompas dalam setiap langkahnya. Dari merekalah ia belajar arti kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan.
Refleksi: “Aku lahir dari kesederhanaan, tetapi di sanalah aku belajar bahwa harapan tidak pernah sederhana.” - Masa Kecil yang Mengajarkan Keteguhan
Sebelum mengenal bangku sekolah, Nurdin biasa dipanggil Manurung sejak kecil telah lebih dulu mengenal kerasnya kehidupan. Ia menggembalakan sapi dan kambing di padang yang luas, menyusuri hari di bawah terik matahari. Tangan kecilnya juga pernah terlibat dalam aktivitas berdagang bersama orang tua, belajar tentang arti jerih payah, kejujuran, dan ketulusan.
Di sanalah ia belajar bahwa hidup bukan sekadar menunggu, tetapi tentang bergerak dan bertahan. Dari ladang dan pasar sederhana, tumbuh jiwa yang kuat, jiwa yang tidak mudah menyerah oleh keadaan.
Refleksi: “Keringat masa kecilku adalah bekal kekuatan untuk menghadapi kerasnya kehidupan di masa depan.” - Langkah Pertama Menuju Pendidikan
Ketika akhirnya ia menapakkan kaki di SD Negeri Impres Banyorang Kecamatan Tompobulu Kabupaten Bantaeng , dunia baru terbentang di hadapannya. Tahun 1988 menjadi saksi kelulusannya dari pendidikan dasar. Ia bukan hanya membawa ijazah, tetapi juga membawa mimpi yang mulai menemukan arah.
Di balik langkahnya, ada dorongan keluarga yang terus menguatkan untuk melanjutkan Pendidikan di Kota Bantaeng. Orang tua yang mungkin tidak mampu memberi kemewahan, tetapi selalu memberi doa yang tidak pernah putus.
Refleksi: “Ilmu adalah cahaya, dan keluargaku adalah pelita yang menuntunku menuju cahaya itu.” - Menempa Diri di Bangku SMP
Perjalanan berlanjut ke SMP Andika Bantaeng dan ikut ujian persamaan di SMP Negeri 2 Bantaeng dan diselesaikan pada tahun 1991. Pada masa ini, kepercayaan diri mulai tumbuh. Ia mulai mengenal arti persaingan, persahabatan, dan pentingnya ketekunan dalam meraih cita-cita.
Dukungan keluarga menjadi energi yang tidak terlihat, tetapi selalu terasa. Dalam setiap langkahnya, ada harapan yang ia jaga agar tidak mengecewakan mereka.
Refleksi: “Setiap langkah kecilku adalah bagian dari harapan besar keluargaku.” - Mimpi yang Kian Terarah di SMA
Di SMA Negeri 4 Bantaeng, yang ia selesaikan pada tahun 1994, mimpi itu semakin jelas. Ia mulai menaruh harapan besar pada dunia pendidikan. Dalam dirinya tumbuh keinginan untuk menjadi bagian dari perubahan—menjadi seseorang yang tidak hanya belajar, tetapi juga kelak mengajarkan.
Pada masa ini, keluarga tetap menjadi tempat pulang yang menguatkan ketika lelah datang.
Refleksi: “Mimpi tidak tumbuh sendirian, ia tumbuh dari doa dan dukungan orang-orang tercinta.” - Menapaki Dunia Akademik
Langkah besar itu dimulai saat ia melanjutkan pendidikan di IKIP Ujungpandang dengan Jurusan Pendidikan Ekonomi sekaligus wisudawan terbaik di Fakultas FPIPS saat itu (kini Universitas Negeri Makassar). Tahun 1999 menjadi tonggak penting ketika ia berhasil meraih gelar sarjana (S1).
Namun, jalan itu tidak selalu mulus. Ada masa-masa ketika ia harus berjuang dengan keterbatasan ekonomi, menahan lelah di antara tuntutan belajar dan kebutuhan hidup. Pernah ada saat di mana ia harus memilih antara memenuhi kebutuhan sehari-hari atau membeli buku untuk kuliah.
Dalam perjalanan ini, keluarga terutama Saudara yang selalu membantu menjadi sumber kekuatan baru. Dukungan mereka, kesabaran mereka, dan pengertian mereka menjadi alasan mengapa ia tidak pernah benar-benar berhenti.
Refleksi: “Di saat aku hampir menyerah, keluargaku mengajarkanku arti bertahan.” - Mengasah Diri di Pendidikan Pascasarjana
Kehausan akan ilmu membawanya melanjutkan studi S2 di STIE Patria Artha (Universitas Patria Artha) Konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia, yang diselesaikan pada tahun 2007. Ia tidak berhenti di situ. Tahun 2023, ia kembali menuntaskan S2 di Universitas Indonesia Timur dengan Konsentrasi Ilmu Administrasi Negara.
Di balik capaian itu, tersimpan kisah perjuangan yang tidak sederhana. Di tengah kesibukan mengajar dan menjalanankan tugas sebagai pengawas sekolah pada madrasah, ia harus membagi waktu antara tugas, keluarga, dan studi. Kehadiran istri yang setia dan anak-anak yang memahami perjuangannya menjadi penopang yang luar biasa.
Refleksi: “Keberhasilanku bukan hanya milikku, tetapi milik mereka yang setia berjalan bersamaku.” - Puncak Perjalanan Akademik
Perjalanan panjang itu mencapai puncaknya ketika ia menyelesaikan pendidikan doktor dengan jangka waktu 2 Tahun 10 bulan 29 Hari dengan Konsentrasi Ilmu Pendidikan Agama Islam dan menjadi Wisudawan Terbaik (S3) di Universitas Muhammadiyah Makassar pada tahun 2025.
Di usia yang tidak lagi muda, ia kembali diuji. Namun, keluarga kembali menjadi tempatnya berpulang, tempat ia menemukan kekuatan untuk melangkah lebih jauh.
Refleksi: “Aku tidak pernah berjalan sendiri, karena di belakangku ada keluarga yang selalu menguatkan.” - Mengabdi sebagai Guru
Sejak tahun 1996, Nurdin telah mendedikasikan dirinya sebagai pendidik di berbagai sekolah. Ia tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing dan menginspirasi.
Dalam setiap pengabdian, keluarga tetap menjadi bagian dari perjalanan itu memberi dukungan ketika lelah, dan menjadi alasan untuk terus memberi yang terbaik.
Refleksi: “Mengajar adalah pengabdian, dan keluargaku adalah alasan aku terus mengabdi.” - Peran sebagai Dosen dan Pemimpin
Selain sebagai guru, ia juga aktif sebagai dosen dan pemimpin di berbagai institusi pendidikan. Ia pernah menjadi Dekan dan memegang amanah penting lainnya.
Semua capaian ini tidak terlepas dari peran keluarga yang selalu hadir sebagai pendamping setia dalam setiap perjalanan.
Refleksi: “Kesuksesan sejati adalah ketika kita tidak melupakan mereka yang setia menemani perjalanan kita.”
Perjalanan hidup Dr. H. Nurdin adalah kisah tentang ketekunan, pengorbanan, dan cinta keluarga. Dari kesederhanaan menuju pencapaian, ia membuktikan bahwa kekuatan terbesar dalam hidup bukan hanya berasal dari diri sendiri, tetapi juga dari mereka yang kita cintai. (Nurman)
